PULANG

by - 22:21

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

[Resensi] Pulang - Tere Liye






Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. –Hal. 262

Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian
Cetakan: VIII, November 2015
Jumlah hal.: iv + 400 halaman
ISBN: 978-6020-82219

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku di banding tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

***

Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apa pun penilaian kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka. –Hal. 1

Baru saja Tere Liye menerbitkan novel terbarunya Bulan, Tere Liye kembali menerbitkan novel yang berjudul Pulang. Apakah arti sebenarnya dari Pulang? Seperti kita ketahui Tere Liye merupakan penulis Best Seller dengan karyanya yang di minati oleh siapapun. Bukan hanya kaum muda, namun kaum tua pun menikmati setiap inci dari tulisan  penulis ini. Kali ini Tere Liye mengambil tema yang cukup mencengangkan bagi penikmatnya yang hanya tahu bahwa Tere Liye seorang penulis yang menyuguhkan romantisme ataupun petualangan. Pulang merupakan novel yang berisikan mengenai kehidupan keluarga mafia, di mana tokoh utamanya yang di gambarkan sangat sempurna oleh si penulis. Di dalam buku ini juga banyak istilah-istilah yang mungkin awam bagi masyarakat. Tidak hanya pertempuran yang di suguhkan dalam novel ini tapi ada istilah Shadow Economi yang menggambarkan  perekonomian yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja atau lebih singkatnya dunia gelap perekonomian dunia.

Cerita berawal dari suatu pedesaan terpencil di sekitar lereng Bukit Barisan pedalaman Sumatra. Di sana hidup seorang jagal ternama  yang merupakan keturunan jagal  termahsyur di seluruh pulau Sumatra. Ia bernama Samad. Samad menikah dengan Midah dan memiliki seorang putra yang bernama Bujang. Di dalam novel ini Bujang di gambarkan sebagai sosok yang tangguh dengan bentuk perawakan besar dan memiliki mata yang hitam tajam. Suatu hari datanglah rombongan dari kota untuk membantu Samad membereskan hama yang mengganggu ladang di kampungnya, Talang. Ternyata salah satu rombongan itu merupakan saudara angkat Samad yang tak lain Tauke Muda.  Bujang di ajak untuk ikut berburu babi, hama yang mengganggu ladang mereka. Semenjak kejadian berburu babi bersama Tauke Muda itu, Bujang kehilangan salah satu dari lima emosinya, yaitu rasa takut. Setelah itu Bujang di ajak untuk pergi ke kota bersama Tauke Muda. Awalnya Midah tak setuju namun akhirnya dengan terpaksa ia mengizinkan Bujang ikut bersama Tauke Muda. Demi masa depan Bujang, putra satu-satunya. Midah pun berpesan kepada Bujang bahwa ia harus menjaga perutnya dari makanan haram.

“Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana... Mamak tahu... Tapi, tapi apapun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.” –Hal. 24

“Berjanjilah kau akan menjaga dari semua itu, Bujang. Agar... Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” –Hal. 24

Sesampainya di Mess, rumah Tauke Muda. Bujang berkenalan dengan Bahsyir, seorang jagal keturunan Arab. Suatu hari datanglah seorang pria keturunan Amerika, Frans. Bujang di suruh mengerjakan soal-soal yang tak pernah dia kerjakan di kampungnya. Walau tak pernah merasakan dunia pendidikan, Bujang bisa membaca, menulis, menghitung, mengaji, dan adzan. Semua itu di ajarkan oleh ibunya. Setelah menjalani beberapa kali test, akhirnya Frans pun mengatakn bahwa Bujang sangat jenius dan kepintarannya harus di kembangkan dengan cara bersekolah. Awalnya Bujang tidak mau karena tujuannya ke sini hanya untuk menjadi tukang pukul seperti bapaknya dulu. Namun ketika itu Bujang di bawa Tauke Muda untuk menjalankan sebuah tradisi yang di sebut Amook. Apabila Bujang dapat bertahan dalam waktu 20 menit di dalam Amook dan tidak terjatuh, ia boleh menjadi tukang pukul dan tak perlu bersekolah. Bujang akan berdiri di tengah sebuah lingkaran dan akan melawan 60 orang tukang pukul. Pada menit 19, Bujang pun terjatuh karena Bahsyir. Akhirnya Bujang pun harus bersekolah, mengejar pendidikan formal yang telah tertinggal olehnya. Bujang dapat mengejar semua ketertinggalan itu dengan nilai yang sangat sempurna. Bujang pun mengikuti ujian akhir SMA dan melanjutkan kuliah di sebuah universitas ternama di ibu kota. Tidak hanya pengetahuan yang Bujang dapatkan tetapi fisiknya dan kekuatannya pun terlatih dengan sangat baik. Bujang di latih menjadi tukang pukul yang handal dan profesional. Mendapat ilmu bela diri dari Kopong, tukang pukul senior yang bekerja pada Tauke Besar. Kopong memang memiliki wajah yang sangar walaupun ia tersenyum. Tersenyum namun seperti mendelik. Tapi Kopong begitu peduli dengan Bujang dan selalu mencoba membantu Bujang tanpa Bujang memintanya. Kopong pun bercerita kepada Bujang mengenai masa lalu ayahnya dan ternyata ayah Bujang lah yang membantu Kopong dulu. Ada kata-kata yang sangat ngena  yang di ucapkan Kopong.

“Dia baik-baik saja, Bujang. Itu adalah momen paling sulit bagi seorang guru, ketika muridnya berhasil mengalahkannya. Aku tahu bagaimana rasanya. Antara bangga, sedih , kecewa, semua bercampur menjadi satu. Susah di lukiskan.” –Hal. 184

Selain Kopong ada Guru Bushi. Seorang samurai yang mengajari Bujang tentang bagaimana menjadi seorang lelaki sejati. Menjadi seorang samurai dan mengajari Bujang menemukan jati dirinya, mengajarkan segala ilmu bela diri ala ninja yang bergerak lincah bagaikan tak terlihat.

Guru Bushi selalu bilang, “Ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka terlebih dulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang.” –Hal. 153

Dan terakhir ada Salonga, seorang pria Filipina yang merupakan penembak terbaik se-Asia. Walaupun pada awalnya Salonga selalu mencaci Bujang dengan kata bodoh namun sebenarnya Salonga menganggap Bujang sebagai murid terbaiknya dan memberikan pistol colt yang merupakan warisan dari gurunya dulu.
“Kesetiaan anak ini ada pada prinsip, bukan pada orang atau kelompok. Di masa-masa sulit, hanya prinsip seperti itulah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya” –Hal. 187

Mereka bertiga adalah guru bela diri yang sangat berperan di kehidupan Bujang. Sedangkan guru terdekat yang mengajarkan Bujang mengenai ilmu pengetahuan ataupun agama adalah Frans dan Tuanku Imam. Tuanku Imam merupakan kakak lelaki dari Midah, ibu Bujang. Ia mengajarkan Bujang untuk berdamai dengan dirinya sendiri, memeluk kesedihan, kebencian dan rasa sakit.
Bujang pun menjadi sosok yang sangat berperan dalam Keluarga Tong. Ia merupakan sosok yang sangat menakutkan di dalam dunia shadow economi. Dengan kepintaran dan kekuatannya, Bujang mampu mengendalikan siapapun dengan perkataannya. Hingga suatu hari, Keluarga Tong terancam. Terjadi pengkhianatan di mana-mana. Serangan demi serangan di luncurkan untuk menghancurkan Keluarga Tong. Bujang pun berada di sebuah titik di mana ia pun merasa tidak akan mampu melewatinya. Akhirnya salah satu dari lima emosinya yang hilang bertahun-tahun yang lalu muncul kembali memenuhi benak Bujang. Rasa takut, rasa yang dulu hilang kini kembali membuat kondisi Bujang lebih terpojokkan. Kemudian kemunculan sosok yang selama ini tidak pernah Bujang ketahui namun masih memiliki hubungan darah dengannya. Sosok ini mengingatkan Bujang untuk pulang. Tapi pulang ke mana? Apa arti pulang itu?

“Ketahuilah, Nak. Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.”  –Hal. 340

***


Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. –Hal. 101

Banyak kelebihan yang di miliki oleh buku ini. Pertama dari covernya yang simple namun bermakna. Seakan seperti robekan yang ingin memperlihatkan terbitnya mentari dengan latar ungu yang mengiringinya. Ketika kalian membaca novel ini, kalian akan tahu apa makna di balik cover yang menyampul buku ini. Kedua, bahasanya yang mudah di pahami dan enak untuk di baca, mendapat kesan tersendiri bagi para pembacanya. Walaupun dengan alur campuran, maju dan mundur. Pembaca tidak mengalami kesulitan untuk memahami setiap kata dan makna yang ingin di sampaikan oleh si penulis. Kecerdasan sang penulis pun di torehkan di setiap sisi cerita ini dengan jelas dan sangat mendetail.  Ketiga, banyak moral dan makna yang terkandung dalam cerita ini. Cerita ini pun memperkenalkan sebuah tema yang sangat jarang dan unik, action yang mendasarinya mampu membuat para pembaca terkagum-kagum dan shadow economi mampu menambah wawasan setiap pembacanya termasuk diri saya sendiri. Terlalu banyak kesan saat membaca novel ini. Perasaan dan logika para pembaca pun seakan di olah untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang tersirat.

Keempat, cerita ini mampu membuat penasaran para pembaca dengan endingnya. Banyak flashback yang terdapat dalam cerita ini namun tetap saling berkaitan dan menunjukkan titik terangnya dari sebuah kata PENASARAN. Kelima, Tere Liye mampu membuat para pembacanya menyelesaikan buku ini dengan cepat tanpa ada rasa malas yang menyelubungi karena ada tarikan kuat untuk menyelesaikannya. Dan yang terakhir ada sebuah hubungan antara cerita ini dan dunia nyata sehingga kita dapat memahami setiap situasi dengan baik. Cerita ini seperti memiliki hubungan dengan keadaan Indonesia yang terpuruk. Terlalu banyak kegelapan dalam dunia perekonomian. Sogok-menyogok yang ada di novel ini pun seakan menyindir para pejabat yang korupsi dan ingin menutup mulut para saksi, hakim, jaksa ataupun pihak-pihak yang bersangkutan. Di novel ini pun menjelaskan kalau uang mampu membuat seseorang lolos dari eksekusi karena dengan uang seseorang akan berkuasa. Walaupun hal ini merupakan asumsi saya sendiri tapi menurutku ini pesan tersirat dari seorang Tere Liye di mana para terdakwa yang memiliki uang mampu lolos dari jerat hukum apapun. Pokoknya novel ini menyajikan sesuatu yang tidak biasa, cerita, tokoh, alur maupun makna yang membuat kita akan selalu kagum oleh sosok seorang Tere Liye, yang mampu mengolah setiap pemikiran dan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang bermakna.

Tak ada manusia yang sempurna yang hanya memiliki kelebihan namun pastinya memiliki kekurangan. Sama halnya seperti tulisan, pasti memiliki kekurangan dalam kelebihan. Kekurangan dari buku ini terdapat pada BAB 1 dan BAB 2. 
Banyak bahasa daerah yang kurang di mengerti dan mengharuskan saya membuka google untuk mencari artinya. Seperti kata kutilik, bersua, trembesi dan lain-lain. Saya berharap ada catatan kaki yang melengkapi novel ini agar lebih memahami arti kata tersebut. Sebenarnya dalam tokoh Bujang juga menurutku terlalu sempurna dan multitalenta untuk menjadi seorang manusia. Ia terlalu jenius, kuat dan cerdik. Penggambaran fisik sosok Bujang pun tidak terlalu mendetail seperti penggambaran tokoh lain. Selain penggambaran fisik juga penggambaran setiap tempat yang kurang mendetail membuat para pembaca kesulitan untuk membayangkan setiap setting tempat di novel ini. Namun secara keseluruhan tentunya kekurangan ini hanya sebagian kecil dari setiap kelebihan yang membuat novel ini tetap berkesan di mata setiap pembacanya.

“Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apapun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.” –Hal. 339

Setelah membaca novel ini saya memiliki satu kutipan yang menurutku 
menggambarkan setiap tokoh di novel ini.

“Setiap manusia memiliki setiap sisi yang berbeda. Antara hitam dan putih. Manusia terkadang hitam namun tak sehitam kelihatannya dan manusia terkadang putih namun tak seputih kelihatannya.” Aulia Resky.

Sekian resensi dari saya, terima kasih:)

Wabillahitaufik Wahidayah Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

You May Also Like

46 comments

  1. Wiihhh iya nih aku juga baru baca Tere Liye yang pulang, emang keren banget apalagi makna ceritanya dalem banget:D

    ReplyDelete
  2. "Pulang" terisi sama makna yang sempurna, banyak kilasan yg lebih dari cukup bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa:D Banyak kata2 kiasan yang sangat bermakna

      Delete
    2. Coba deh baca yang novel Rindu karya om Tere Liye:) di sana banyak kata-kata kilasan dan makna tersirat yang di tawarkan oleh si penulis:) *Maaf ikut comment*

      Delete
  3. "Pulang" terisi sama makna yang sempurna, banyak kilasan yg lebih dari cukup bagus

    ReplyDelete
  4. Tere Liye memang penulis yang sangat berbakat, aku suka banget sama novelnya. Semua karyanya sangat bagus terlebih novel rindu, sangat keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua karya nya emang keren-keren:D

      Delete
    2. Wah iyaa benar yang Rindu novelnya emang keren. Banyak maknanya dan islami banget hehe

      Delete
  5. Wowww, keren sekali.. baru baca resensi nya aja keren, aku ingin baca buku nya langsung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, makanyaa baca langsung aja bukunyaa:D

      Delete
    2. Memang sangat bagus, banyak pengetahuan di dalam novelnya. Ayo di baca:)

      Delete
  6. Wiihh bagus banget resensinya. Aku jadi pengen baca Pulang karya tere liye

    ReplyDelete
  7. Bagus banget kaka jadi pengen baca bukunya nih...

    ReplyDelete
  8. resensinya sudah bagus, jadi mau baca buku karya Tere Liye yang 'Pulang'!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang bagus bukunya, ayo nandaa baca bukunya hehehe:)

      Delete
  9. Resensinya keren nih. Mau ke beli bukunya ah penasaran, biar bisa baca fullnya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa delii, baca bukunya langsung aja biar ga penasaran^

      Delete
    2. Wah memang bagus loh pasti ga nyesel beli karya om Tere Liye yang ini:)

      Delete
  10. Weeeis keren banget niiih,jadi gasabar mau beli novel nyaaa

    ReplyDelete
  11. Wiiih keren banget resensinya, jadi penasaran pengen baca bukunya langsung. Sukses terus yaa semoga bisa menjadi penulis terkenal dengan karya-karya terbaiknya. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe baca bukunya langsung aja biar ga penasaran:) Aamiin.

      Delete
  12. WHAAAA kereeeen. Suka banget sama resensinya, jadi tertarik baca bukunya :D

    ReplyDelete
  13. Resensinya keren dan menarik.. Ga sabar mau beli novelnya dan langsung baca bukunya

    ReplyDelete
  14. KEREN resensinya... jadi pengen beli novelnya langsung :)
    Tere Liye selalu bisa bikin pembacanya tertarik (y) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe ayoo baca novelnya langsung aja yaa:)

      Delete
    2. Itu bener banget. Coba baca karya terbarunya Hujan. Novel itu keren banget😁

      Delete
  15. Wih bagus banget inisih keren banget

    ReplyDelete
  16. good..ceritanya menarik,jadi pengen beli novelnya :D
    - Audrey -

    ReplyDelete
  17. Saya juga sudah baca cerita ini dan novelnya memang benar-benar keren:) memang benar susah rasanya ketika membaca bab I dan II, terlalu banyak kata-kata yang sulit di mengerti apalagi tidak ada bantuan penjelasan di dalam novel itu sendiri. Tapi hal itu ga mengurangi sedikitpun cerita ini dan resensinya sangat lengkap �� saya suka dengan kata-kata yang di susun rapih dan rinci mengenai novel ini

    ReplyDelete
  18. Oh iya satu lagi, saya tunggu resensi novel lainnya yaaa terutama karya om Tere Liye hehe>.<

    ReplyDelete